Sobat Pa'e!! Seorang peneliti telah diberi akses oleh perusahaan Meta ke
dalam sebuah Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan (AI) yang sangat
hebat. Hasilnya, peneliti menemukan hal tak terduga tentang bagaimana AI akan
berkembang di masa depan.
Temuan ini menjadi masalah penting yang membuat peneliti
merasa khawatir, terutama bagi para peneliti yang dulu pernah menjadi bagian
tim integritas dan kebijakan kecerdasan buatan di Meta.
Peneliti menjelaskan bagaimana kebocoran (pada AI) ini dapat
mengancam keamanan teknologi kecerdasan buatan serta apa yang dapat kita
lakukan untuk menghadapinya.
Perusahaan Meta telah mengeluarkan pemberitahuan penghapusan
agar kode yang bocor tersebut menjadi offline, karena kode tersebut seharusnya
hanya dapat diakses untuk penggunaan penelitian, namun setelah kebocoran
tersebut.
"Platform yang akan menang adalah yang terbuka,"
kata kepala ilmuwan AI perusahaan, Yann LeCun, dikutip dari The Guardian.
Menurut LeCun, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan Meta
mungkin hanya menggunakan model sumber terbuka sebagai strategi kompetitif.
Perlombaan Mengembangkan AI
Meskipun Meta mengalami pelanggaran akibat kebocoran ini,
perusahaan ini tetap keluar sebagai pemenang.
Sebab, hingga saat ini, peneliti dan pengembang independen
kini berlomba-lomba untuk memperbaiki atau membangun atas dasar LLaMA (Large
Language Model Meta AI - versi merek Meta dari model bahasa besar atau LLM,
yang menjadi dasar ChatGPT) dengan banyak dari mereka membagikan hasil kerja
mereka secara terbuka dengan dunia.
Hal ini bisa membuat Meta menjadi pemilik pusat platform AI
yang dominan, mirip dengan cara Google mengendalikan sistem operasi Android
sumber terbuka yang digunakan dan disesuaikan oleh produsen perangkat di
seluruh dunia.
Jika Meta berhasil mengamankan posisi sentral ini dalam
ekosistem AI, maka mereka akan memiliki pengaruh dalam menentukan arah AI.
Bahkan mereka bisa mengendalikan pengalaman pengguna
individu, dan mengatur batasan apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh
perusahaan lain.
Perbedaan antara AI Open Source dan Close Source
Seperti yang diketahui, Bard dari Google dan ChatGPT dari
OpenAI dapat digunakan secara gratis, tetapi mereka bukanlah AI yang open
source.
Bard dan ChatGPT bergantung pada tim moderator konten dan
analis ancaman yang bekerja untuk mencegah platform mereka digunakan untuk
tujuan yang merugikan.
Namun, ada kompetitor lain bernama LLaMA dari Meta dengan
model bahasa besar yang dapat diakses oleh siapa saja yang memiliki komputer
yang cukup kuat.
Sistem ini akan menjadi saingan bagi ChatGPT karena LLaMA
memberikan kesempatan bagi berbagai pihak, termasuk yang tidak memiliki moral,
untuk menggunakan kecerdasan buatan tanpa adanya sistem keamanan yang memadai.
Dengan kata lain, teknologi ini bisa digunakan oleh siapa
saja tanpa perlindungan yang memadai untuk mencegah penyalahgunaan atau
tindakan tidak etis.
Ancaman Terhadap Demokrasi dan Keamanan
Keberadaan AI yang bebas, dapat digunakan untuk membuat
konten palsu yang lebih meyakinkan, memproduksi lebih banyak konten palsu, atau
bahkan mengubahnya menjadi "klasifikasi" yang memindai platform media
sosial untuk konten yang provokatif.
Teknologi ini dapat digunakan untuk membuat video palsu
(deepfake) yang memperlihatkan kandidat politik mengatakan sesuatu yang
sebenarnya tidak pernah mereka ucapkan.
Ini berarti, seseorang dapat dengan mudah menciptakan video
palsu yang membuat seorang politisi terlihat seperti berkata atau melakukan
sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Selain itu, teknologi ini juga bisa dimanfaatkan untuk
tujuan operasi pengaruh di platform-platform yang dimiliki oleh Meta, seperti
Facebook, Instagram, dan WhatsApp.
Tujuan ini bisa membuat seseorang bisa menggunakan teknologi
untuk memengaruhi atau memanipulasi informasi yang tersebar di
platform-platform tersebut, mungkin untuk tujuan politik atau lainnya.
Perlu Menghentikan Perlombaan AI
Dengan banyaknya ancaman yang ada, saat ini para ilmuwan
dihadapkan dengan perlombaan untuk mengembangkan teknologi kecerdasan buatan
(AI) yang kurang aman atau tidak terkendali.
Dalam konteks ini, "keamanan AI yang rendah"
merujuk pada pengembangan AI tanpa memadai kontrol atau perlindungan terhadap
penggunaan yang berpotensi berbahaya atau merusak.
Keamanan AI yang rendah dapat mencakup penggunaan AI untuk
tujuan yang tidak etis atau bahkan kriminal, seperti penyebaran informasi
palsu, peretasan, atau kegiatan subversif lainnya.
Maka dari itu, Gary Marcus, seorang ahli AI, dan Sam Altman,
CEO OpenAI, mendirikan sebuah badan pengaturan internasional yang fokus pada
pengawasan dan regulasi teknologi AI.
Badan ini akan serupa dengan badan pengaturan yang mengawasi
keamanan nuklir, yang bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan dan risiko yang
terkait dengan teknologi berbahaya.
Di sisi lain, Uni Eropa telah mengambil langkah lebih maju
dalam mengatur teknologi AI daripada Amerika Serikat dengan mengusulkan EU
Artificial Intelligence Act. Namun, sayangnya, implementasi penuh dari
inisiatif ini mungkin akan memakan waktu cukup lama, yaitu pada tahun 2025 atau
lebih lambat lagi.
Jadi, menurut ilmuwan untuk saat ini yang diperlukan adalah
undang-undang dan badan pengaturan yang efektif untuk mengawasi teknologi AI.
Mereka juga mengatakan, saat ini manusia modern hanya bisa
bergantung pada langkah sukarela CEO perusahaan teknologi untuk menghentikan
penggunaan AI berbahaya.
Sisanya, para pembuat kebijakan harus bertindak cepat untuk
melindungi masa depan dan demokrasi dari risiko AI tidak terkendali.
Sumber : DetikEdu
Comments
Post a Comment