Penelitian baru-baru ini mengungkapkan, bahwa hari secara
perlahan makin panjang karena bulan menjauh dari planet bumi. Para ilmuwan mengemukakan, bahwa makin jauh jarak bulan
terhadap bumi, berakibat pada melambatnya rotasi bumi karena gravitasi yang
berubah. Alhasil, durasi hari memanjang sedikit demi sedikit.
Mereka memprediksi, bahwa suatu hari dalam 200 tahun ke
depan, durasi satu hari di Bumi bisa mencapai 25 jam. Saat ini, bulan mengorbit bumi dengan jarak 238.000 mil dari
bumi, yang membutuhkan sekitar 27,3 hari untuk menyelesaikan satu orbit. Namun, penelitian sebelumnya menemukan, bahwa bulan menjauh
dari bumi dengan kecepatan 1,5 inci per tahun. Artinya, bulan membutuhkan waktu
lebih lama lagi dalam mengorbit bumi.
Seorang ahli geosains dan profesor di University of
Wisconsin-Madison beserta rekan-rekannya, merekonstruksi sejarah hubungan
antara bumi dan bulan. Mereka menemukan dalam 1,4 miliar tahun lalu, satu hari di
bumi hanya berlangsung selama 18 jam. Untuk mendapatkan hasil tersebut, para
peneliti menciptakan metode statistik yang menghubungkan teori astronomi dengan
pengamatan geologi. Jadi, mereka melihat kembali sejarah geologi bumi sehingga
memungkinkan dalam merekonstruksi sejarah dalam tata surya.
Hari-hari di bumi lebih pendek pada miliaran tahun lalu.
Sebab, posisi bulan lebih dekat bumi yang menyebabkan rotasi bumi lebih cepat
ketimbang sekarang. Meski demikian, dalam sejarah panjang bumi, posisi bulan
terus menjauh dari bumi, yang dikenal dengan istilah resesi bulan.
Misi Apollo yang telah dilakukan oleh para astronot, sangat
membantu dalam menentukan jarak antara bumi dengan bulan makin lama menjauh,
dengan cara penembakan laser oleh para peneliti di bumi ke permukaan bulan dan
mengukur seberapa cepat bulan bergerak menjauh. Saat bulan perlahan menjauh dan mengakibatkan lambatnya
rotasi bumi, dampak ini juga dikaitkan dengan pasang surut lautan.
Saat bumi berotasi, gravitasi bulan menarik lautan yang menyebabkan
terjadinya pasang-surut. Tarikan tersebut menyebabkan air laut "membentuk
tonjolan" ke arah bulan di sisi bumi yang paling dekat dengan bulan. Sementara itu, di sisi lain bumi yang jauh dari bulan,
gravitasi bulan lebih rendah sehingga menyebabkan surutnya air laut. Di sisi
ini, inersia lebih kuat daripada gravitasi bulan.
Gaya gabungan gravitasi bulan dan inersia, menciptakan dua
tonjolan pasang surut yang tetap sejajar dengan bulan saat Bumi berotasi. Sementara itu, bumi berputar pada porosnya (rotasi) jauh
lebih cepat ketimbang waktu yang dibutuhkan bulan untuk mengorbit bumi.
Ketika Bumi berotasi, dasar lautan juga ikut bergerak.
Karena tarikan gravitasi bulan menciptakan tonjolan pasang surut air laut ke
arah bulan, tonjolan ini tidak sepenuhnya diam. Dasar lautan yang bergerak akibat rotasi Bumi menciptakan
gesekan yang sedikit menarik air laut bersamanya, sehingga tonjolan air
bergerak mendahului posisi bulan di langit.
Hal ini menyebabkan efek penundaan antara tonjolan pasang
surut dan posisi bulan, yang menjadi dampak dari melambatnya rotasi Bumi secara
bertahap dan jauhnya bulan.
Di samping itu, faktor lain yang mempengaruhi rotasi bumi
adalah perubahan iklim. Sebab, seiring dengan makin panasnya suhu global, banyak
es di kutub yang mencair. Air dari proses pencairan ini, mengalir ke arah khatulistiwa
sehingga menyebabkan makin luasnya wilayah lautan pada bumi.
Makin luas lautan, maka gaya pasang-surut air laut pun
menjadi lebih besar, sehingga turut menyebabkan lambatnya rotasi bumi. Dapat disimpulkan, bahwa makin hari di bumi berjalan sedikit
demi sedikit lebih lama. Bahkan, dengan sangat sedikit, itu pula kita di bumi
tidak merasakan perbedaannya.
Namun, dalam jutaan tahun mendatang, perubahan itu akan
makin terasa hingga menambah satu jam ekstra setiap hari di Bumi. Bagaimana
menurut kamu?
Comments
Post a Comment