Si Boli: Simbol Persatuan dan Identitas Budaya di Jantung Flores Timur

Larantuka kini memiliki ikon baru yang akan menghiasi kemeriahan perhelatan sepak bola di Flores Timur. Tepat pada Minggu, 5 Juli 2026, di Taman Kota Felix Fernandez, Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, secara resmi memperkenalkan Si Boli —maskot yang tidak sekadar menjadi simbol pertandingan, tetapi representasi jiwa dan jati diri masyarakat Lamaholot. Filosofi di Balik Goresan Tangan Di balik karakter unik Si Boli, terdapat dedikasi seorang Tarwan Stanislaus . Mantan jurnalis yang kini mengabdi sebagai ASN di Pemda Flores Timur ini menuangkan keahlian desain grafisnya ke dalam sebuah karya yang sarat makna. Proses kreatifnya tidak lahir dalam semalam; Tarwan melakukan riset mendalam dengan berdialog bersama sejumlah tokoh kunci, seperti Petrus K. Kewuan, Wento Eliando, Eman Niron, Ebed De Rosari, serta Patman Werang. Si Boli adalah sebuah perpaduan cermat yang menyatukan identitas dari tiga wilayah besar di Flores Timur: Selendang Waibalun yang merepresentasikan Flores daratan. N...

Tak Lagi 24, Bumi Akan Punya 25 Jam dalam Sehari di Masa Depan: Ini Penyebabnya

Penelitian baru-baru ini mengungkapkan, bahwa hari secara perlahan makin panjang karena bulan menjauh dari planet bumi. Para ilmuwan mengemukakan, bahwa makin jauh jarak bulan terhadap bumi, berakibat pada melambatnya rotasi bumi karena gravitasi yang berubah. Alhasil, durasi hari memanjang sedikit demi sedikit.

Mereka memprediksi, bahwa suatu hari dalam 200 tahun ke depan, durasi satu hari di Bumi bisa mencapai 25 jam. Saat ini, bulan mengorbit bumi dengan jarak 238.000 mil dari bumi, yang membutuhkan sekitar 27,3 hari untuk menyelesaikan satu orbit. Namun, penelitian sebelumnya menemukan, bahwa bulan menjauh dari bumi dengan kecepatan 1,5 inci per tahun. Artinya, bulan membutuhkan waktu lebih lama lagi dalam mengorbit bumi.

Seorang ahli geosains dan profesor di University of Wisconsin-Madison beserta rekan-rekannya, merekonstruksi sejarah hubungan antara bumi dan bulan. Mereka menemukan dalam 1,4 miliar tahun lalu, satu hari di bumi hanya berlangsung selama 18 jam. Untuk mendapatkan hasil tersebut, para peneliti menciptakan metode statistik yang menghubungkan teori astronomi dengan pengamatan geologi. Jadi, mereka melihat kembali sejarah geologi bumi sehingga memungkinkan dalam merekonstruksi sejarah dalam tata surya.

Hari-hari di bumi lebih pendek pada miliaran tahun lalu. Sebab, posisi bulan lebih dekat bumi yang menyebabkan rotasi bumi lebih cepat ketimbang sekarang. Meski demikian, dalam sejarah panjang bumi, posisi bulan terus menjauh dari bumi, yang dikenal dengan istilah resesi bulan.

Misi Apollo yang telah dilakukan oleh para astronot, sangat membantu dalam menentukan jarak antara bumi dengan bulan makin lama menjauh, dengan cara penembakan laser oleh para peneliti di bumi ke permukaan bulan dan mengukur seberapa cepat bulan bergerak menjauh. Saat bulan perlahan menjauh dan mengakibatkan lambatnya rotasi bumi, dampak ini juga dikaitkan dengan pasang surut lautan.

Saat bumi berotasi, gravitasi bulan menarik lautan yang menyebabkan terjadinya pasang-surut. Tarikan tersebut menyebabkan air laut "membentuk tonjolan" ke arah bulan di sisi bumi yang paling dekat dengan bulan. Sementara itu, di sisi lain bumi yang jauh dari bulan, gravitasi bulan lebih rendah sehingga menyebabkan surutnya air laut. Di sisi ini, inersia lebih kuat daripada gravitasi bulan.

Gaya gabungan gravitasi bulan dan inersia, menciptakan dua tonjolan pasang surut yang tetap sejajar dengan bulan saat Bumi berotasi. Sementara itu, bumi berputar pada porosnya (rotasi) jauh lebih cepat ketimbang waktu yang dibutuhkan bulan untuk mengorbit bumi.

Ketika Bumi berotasi, dasar lautan juga ikut bergerak. Karena tarikan gravitasi bulan menciptakan tonjolan pasang surut air laut ke arah bulan, tonjolan ini tidak sepenuhnya diam. Dasar lautan yang bergerak akibat rotasi Bumi menciptakan gesekan yang sedikit menarik air laut bersamanya, sehingga tonjolan air bergerak mendahului posisi bulan di langit.

Hal ini menyebabkan efek penundaan antara tonjolan pasang surut dan posisi bulan, yang menjadi dampak dari melambatnya rotasi Bumi secara bertahap dan jauhnya bulan.

Di samping itu, faktor lain yang mempengaruhi rotasi bumi adalah perubahan iklim. Sebab, seiring dengan makin panasnya suhu global, banyak es di kutub yang mencair. Air dari proses pencairan ini, mengalir ke arah khatulistiwa sehingga menyebabkan makin luasnya wilayah lautan pada bumi.

Makin luas lautan, maka gaya pasang-surut air laut pun menjadi lebih besar, sehingga turut menyebabkan lambatnya rotasi bumi. Dapat disimpulkan, bahwa makin hari di bumi berjalan sedikit demi sedikit lebih lama. Bahkan, dengan sangat sedikit, itu pula kita di bumi tidak merasakan perbedaannya.

Namun, dalam jutaan tahun mendatang, perubahan itu akan makin terasa hingga menambah satu jam ekstra setiap hari di Bumi. Bagaimana menurut kamu?

 

 

Comments