Larantuka kini memiliki ikon baru yang akan menghiasi kemeriahan perhelatan sepak bola di Flores Timur. Tepat pada Minggu, 5 Juli 2026, di Taman Kota Felix Fernandez, Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, secara resmi memperkenalkan Si Boli—maskot yang tidak sekadar menjadi simbol pertandingan, tetapi representasi jiwa dan jati diri masyarakat Lamaholot.
Filosofi di Balik Goresan Tangan
Di balik karakter unik Si Boli, terdapat dedikasi seorang Tarwan Stanislaus. Mantan jurnalis yang kini mengabdi sebagai ASN di Pemda Flores Timur ini menuangkan keahlian desain grafisnya ke dalam sebuah karya yang sarat makna. Proses kreatifnya tidak lahir dalam semalam; Tarwan melakukan riset mendalam dengan berdialog bersama sejumlah tokoh kunci, seperti Petrus K. Kewuan, Wento Eliando, Eman Niron, Ebed De Rosari, serta Patman Werang.
Si Boli adalah sebuah perpaduan cermat yang menyatukan identitas dari tiga wilayah besar di Flores Timur:
Selendang Waibalun yang merepresentasikan Flores daratan.
Nowing khas Adonara yang penuh filosofi.
Ikatan kepala Nido sebagai simbol kebanggaan dari Solor.
Ketiga elemen budaya ini melebur ke dalam sosok gajah yang gagah, menjadikan Si Boli sebuah simbol persatuan yang utuh bagi seluruh masyarakat Flotim.
Mengapa Gajah?
Pemilihan gajah bukanlah sebuah kebetulan. Dalam khazanah budaya Lamaholot, gading gajah memegang peranan krusial sebagai simbol mahar dalam adat perkawinan. Lewat Si Boli, Tarwan ingin membawa pesan edukatif: agar masyarakat, terutama generasi muda, tidak hanya memandang gading sebagai benda adat, tetapi juga menghargai nilai, asal-usul, dan sejarah di baliknya.
Tarwan menegaskan bahwa sosok Si Boli adalah harmoni antara intuisi kreatif manusia dan bantuan teknologi—sebuah karya orisinal yang ia poles dengan sentuhan personal. Adapun nama "Si Boli" dipilih karena resonansinya yang akrab dan mudah diingat oleh masyarakat di seluruh pelosok Flores Timur, melampaui usulan nama "Si Bala" yang sempat dipertimbangkan sebelumnya.
Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Kehadiran Si Boli menjadi pembuka jalan bagi gelaran besar yang telah dinanti. Sebagai tuan rumah, Flores Timur tidak hanya menyiapkan stadion dan fasilitas pertandingan, tetapi juga panggung besar untuk:
Menggerakkan Ekonomi: Memberikan ruang bagi pelaku UMKM dan pariwisata untuk bersinar.
Menjaga Warisan: Menjadi etalase budaya Lamaholot bagi seluruh masyarakat NTT.
Membangun Kebanggaan: Menanamkan rasa percaya diri masyarakat Flotim sebagai penyelenggara ajang yang prestisius.
Sebagaimana ditegaskan oleh Bupati Anton Doni Dihen, kepercayaan menjadi tuan rumah adalah sebuah kehormatan besar. Dengan Si Boli sebagai garda terdepan, Flores Timur siap menyambut tamu dan peserta dengan profesionalisme, keramahan, dan semangat persaudaraan yang tak terlupakan.

Comments
Post a Comment