- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
Konflik berskala besar antara Amerika Serikat dan Iran pada awal 2026 menunjukkan penggunaan berbagai sistem persenjataan generasi terbaru oleh kedua belah pihak. Amerika Serikat mengerahkan pesawat tempur siluman seperti F‑35 Lightning II dan F‑22 Raptor, yang memanfaatkan teknologi stealth, sensor fusion, dan kemampuan serangan presisi jarak jauh dalam operasi udara intensif sepanjang kampanye awal di Iran. Selain itu, AS juga mengoperasikan pembom siluman strategis B‑2 Spirit untuk menembus pertahanan udara Iran dan menghantam target bernilai tinggi yang tersebar di berbagai wilayah negara tersebut. Pada ranah misil, penggunaan Precision Strike Missile (PrSM) menjadi salah satu perkembangan penting karena ini adalah debut tempurnya; rudal jarak pendek generasi terbaru ini menggantikan ATACMS dan menawarkan jangkauan yang lebih jauh serta akurasi lebih tinggi ketika ditembakkan dari HIMARS. AS juga meluncurkan rudal jelajah Tomahawk dari kapal perusak kelas Arleigh Burke untuk melakukan serangan jarak jauh terhadap berbagai sasaran strategis di Iran.
Di sisi sistem tak berawak, Amerika Serikat menggunakan drone kamikaze terbaru bernama LUCAS (Low‑Cost Unmanned Combat Attack System), sebuah drone murah generasi baru yang pertama kali dipakai dalam pertempuran dan dikembangkan berdasarkan reverse engineering dari drone Iran Shahed‑136. Operasi juga mengandalkan drone MQ‑9 Reaper untuk kemampuan pengintaian dan serangan jarak jauh, memberikan dukungan berkelanjutan terhadap operasi udara AS di wilayah konflik. Untuk pertahanan udara, AS memanfaatkan sistem Patriot dan THAAD dalam menghadapi gelombang serangan rudal balistik Iran, sementara kapal‑kapal perusak AS menggunakan Standard Missiles (SM series) untuk menembak jatuh rudal jelajah dan drone yang diluncurkan Iran menuju sasaran di kawasan regional. Selain itu, kelompok kapal induk AS mengerahkan pesawat F/A‑18F Super Hornet dan EA‑18G Growler untuk mendukung operasi udara dan peperangan elektronik dalam skala besar di bawah payung Operasi Epic Fury.
Baca Juga : Perang Teknologi: Cyber, Drone, AI
Sementara itu, Iran merespons dengan meluncurkan rudal balistik jarak menengah, rudal jelajah, serta drone kamikaze dalam gelombang serangan besar terhadap Israel dan pangkalan‑pangkalan AS di kawasan Timur Tengah, mencerminkan kemampuan ofensif jarak jauh yang tetap signifikan meski infrastruktur militernya mengalami tekanan berat akibat serangan awal AS dan Israel. Iran juga kembali mengandalkan drone kamikaze seri Shahed, yang telah menjadi salah satu aset utama mereka dalam perang jarak jauh dan merupakan teknologi dasar bagi pengembangan drone LUCAS oleh AS. Secara keseluruhan, konflik 2026 ini memperlihatkan bagaimana kedua negara memanfaatkan persenjataan generasi terbaru yang memadukan teknologi stealth, sistem rudal presisi, drone taktis modern, serta pertahanan udara canggih sebagai bagian dari strategi militer mereka dalam perang bereskalasi tinggi.
.png)
Comments
Post a Comment