Media Sosial dan Stres Mental: Bagaimana Dunia Digital Perlahan Menggerogoti Kesehatan Psikologis Manusia

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan X (Twitter) bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga ruang eksistensi sosial, pembentukan identitas, hingga tolok ukur kesuksesan hidup. Namun, di balik kemudahan dan hiburan yang ditawarkan, media sosial menyimpan potensi besar dalam memicu stres mental kronis yang sering kali tidak disadari oleh penggunanya.

Baca Juga : Cuma Main HP! Begini Cara Dapat Uang dari TikTok Setiap Hari

Stres akibat media sosial bukanlah fenomena sederhana. Ia terbentuk melalui proses psikologis yang kompleks, interaksi sosial virtual, algoritma teknologi, serta tekanan budaya digital yang terus berkembang.

1. Mekanisme Psikologis Stres Akibat Media Sosial

a. Perbandingan Sosial yang Tidak Sehat

Manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial memperparah kecenderungan ini dengan menampilkan versi “terbaik” dari kehidupan orang lain—kesuksesan, kecantikan, kekayaan, dan kebahagiaan yang telah melalui proses seleksi dan manipulasi visual.

Akibatnya, otak pengguna membentuk persepsi keliru bahwa:

  • Hidup orang lain selalu lebih baik
  • Kegagalan pribadi terasa lebih besar
  • Diri sendiri dianggap tertinggal

Proses ini memicu stres psikologis, kecemasan sosial, dan penurunan harga diri secara bertahap.

b. Validasi Digital dan Ketergantungan Dopamin

Like, komentar, dan jumlah pengikut memicu pelepasan dopamin di otak—zat kimia yang berperan dalam rasa senang dan kepuasan. Ketika validasi ini berkurang, otak merespons dengan rasa kecewa, cemas, dan stres.

Lama-kelamaan, seseorang:

  1. Mengukur nilai diri dari angka digital
  2. Merasa cemas jika unggahan sepi respons
  3. Mengalami stres antisipatif sebelum memposting konten

Ini dikenal sebagai dopamine-driven stress loop, pola kecanduan psikologis yang sulit dihentikan.


2. Peran Algoritma dalam Memperparah Stres

Media sosial tidak bekerja secara netral. Algoritma dirancang untuk:

  • Menahan perhatian selama mungkin
  • Menyajikan konten yang memicu emosi kuat (marah, iri, takut)
  • Mengulang paparan isu negatif atau kontroversial

Paparan berulang terhadap:

  1. Berita buruk
  2. Konflik sosial
  3. Standar hidup tidak realistis

menyebabkan overstimulasi otak, kelelahan mental, dan stres berkepanjangan.

 

3. Tekanan Sosial Digital dan Fear of Missing Out (FOMO)

FOMO adalah ketakutan psikologis ketika seseorang merasa tertinggal dari aktivitas, tren, atau pencapaian orang lain. Media sosial memperkuat FOMO melalui:

  1. Story yang bersifat sementara
  2. Tren viral yang cepat berganti
  3. Pamer aktivitas sosial secara masif

Dampaknya:

  1. Sulit menikmati kehidupan nyata
  2. Perasaan gelisah saat offline
  3. Tekanan untuk selalu “hadir” secara digital

Ini menciptakan stres eksistensial, di mana seseorang merasa harus terus relevan agar diakui.

 

4. Dampak Jangka Panjang Stres Media Sosial

Jika tidak disadari dan dikendalikan, stres akibat media sosial dapat berkembang menjadi:

  • Gangguan kecemasan
  • Depresi ringan hingga berat
  • Gangguan tidur (insomnia digital)
  • Penurunan fokus dan produktivitas
  • Kelelahan emosional (emotional burnout)
  • Yang paling berbahaya, stres ini sering dianggap “normal” karena dialami secara kolektif.


5. Cara Mengurangi Stres Akibat Media Sosial (Pendekatan Strategis)

a. Digital Awareness

Menyadari bahwa:

  • Konten media sosial tidak merepresentasikan realitas utuh
  • Algoritma bekerja untuk kepentingan platform, bukan kesehatan mental

b. Digital Detox Terstruktur

Bukan sekadar berhenti, tetapi:

  • Mengatur waktu penggunaan
  • Menonaktifkan notifikasi tidak penting
  • Mengurangi konsumsi konten negatif

c. Mengubah Pola Konsumsi

 mengubah pola konsumsi dengan mengikuti akun seperti berikut :

  •  Edukatif
  •  Memberi nilai positif
  • Tidak memicu perbandingan sosial ekstrem

 

Kesimpulan

Media sosial bukan penyebab tunggal stres, tetapi ia berperan sebagai akselerator tekanan psikologis modern. Stres akibat media sosial terbentuk dari kombinasi faktor psikologis, sosial, dan teknologi yang saling berinteraksi secara kompleks.

Dengan kesadaran digital yang tinggi dan kontrol penggunaan yang bijak, media sosial dapat kembali menjadi alat, bukan sumber penderitaan mental. Kesehatan psikologis harus ditempatkan di atas validasi digital.


Comments