on
extrim
- Get link
- X
- Other Apps
Ketika
Inovasi, Ambisi, dan Etika Saling Bertabrakan
Teknologi
sering dipandang sebagai simbol kemajuan, efisiensi, dan masa depan umat
manusia. Dari internet hingga kecerdasan buatan, dunia teknologi menjanjikan
solusi atas berbagai persoalan global. Namun di balik narasi besar tentang
inovasi, terdapat sisi gelap yang jarang dibicarakan: kebohongan. Dalam sejarah
modern, beberapa kebohongan di bidang teknologi tidak hanya merugikan konsumen
dan investor, tetapi juga mengguncang kepercayaan publik secara global.
Artikel
ini membahas beberapa kebohongan terbesar di dunia teknologi—bukan untuk
menolak kemajuan, melainkan sebagai pelajaran penting tentang etika,
transparansi, dan tanggung jawab.
1. Theranos: Mesin Medis yang Tidak Pernah
Benar-Benar Berfungsi
Theranos
pernah disebut sebagai “revolusi industri kesehatan”. Perusahaan rintisan ini
mengklaim mampu melakukan ratusan tes darah hanya dengan satu tetes darah dari
ujung jari. Klaim ini membuat Theranos bernilai miliaran dolar dan pendirinya, Elizabeth
Holmes, dipuja sebagai ikon inovasi.
Kenyataannya,
teknologi tersebut tidak pernah berfungsi seperti yang dijanjikan. Sebagian
besar tes dilakukan menggunakan mesin konvensional, sementara hasilnya sering
kali tidak akurat. Kebohongan ini berbahaya karena menyangkut diagnosis medis
pasien. Skandal Theranos akhirnya terbongkar, dan menjadi contoh klasik
bagaimana narasi teknologi bisa mengalahkan fakta ilmiah.
Pelajaran: Inovasi tanpa validasi ilmiah
adalah ancaman, bukan kemajuan.
2. Volkswagen Dieselgate: Ketika Software Digunakan
untuk Menipu
Pada
2015, terungkap bahwa Volkswagen memasang perangkat lunak khusus pada mobil
diesel mereka untuk memanipulasi hasil uji emisi. Mobil tampak ramah lingkungan
saat diuji, namun dalam penggunaan nyata menghasilkan emisi jauh di atas ambang
batas.
Kasus ini
menunjukkan bahwa teknologi—khususnya perangkat lunak—bisa digunakan bukan
hanya untuk efisiensi, tetapi juga untuk penipuan yang sistematis dan
terencana. Dampaknya berskala global: denda miliaran dolar, rusaknya reputasi,
dan krisis kepercayaan terhadap industri otomotif.
Pelajaran: Kecanggihan teknologi tidak
menjamin integritas penggunanya.
3. Facebook dan Mitos Privasi Pengguna
Selama
bertahun-tahun, Facebook (kini Meta) menyatakan bahwa mereka melindungi data
dan privasi pengguna. Namun skandal Cambridge Analytica mengungkap bahwa
data jutaan pengguna dapat diakses dan dimanfaatkan untuk kepentingan politik
tanpa persetujuan yang jelas.
Baca Juga : Teknologi di Sekitar Kita: Dari Hal Sepele hingga Mengubah Cara Hidup
Masalah
utama bukan hanya kebocoran data, tetapi perbedaan besar antara apa yang
dikomunikasikan kepada publik dan praktik sebenarnya di balik layar. Ini
menjadi salah satu kebohongan paling berpengaruh karena melibatkan demokrasi,
opini publik, dan manipulasi sosial melalui teknologi.
Pelajaran: Data adalah kekuatan, dan
kebohongan tentang pengelolaannya berdampak luas pada masyarakat.
4. Nikola Motors: Truk Listrik yang “Berjalan”
karena Gravitasi
Nikola
Motors mengklaim telah menciptakan truk listrik dan hidrogen revolusioner.
Salah satu video promosi memperlihatkan truk yang tampak melaju dengan mulus di
jalan raya. Belakangan terungkap bahwa truk tersebut sebenarnya meluncur
menuruni bukit, bukan digerakkan oleh mesin.
Kasus ini
menunjukkan bagaimana pemasaran visual dan narasi teknologi dapat menipu publik
dan investor, terutama di era media sosial di mana kesan sering kali lebih kuat
daripada fakta.
Pelajaran: Demonstrasi teknologi harus
diuji, bukan hanya ditonton.
5. “Smart Devices” yang Tidak Sepintar Klaimnya
Banyak
perangkat pintar—mulai dari smart TV, smart speaker, hingga aplikasi
mobile—dipasarkan sebagai alat yang memudahkan hidup. Namun kenyataannya,
sebagian besar mengumpulkan data pengguna secara agresif, memiliki fitur
terbatas, atau bahkan sengaja dibuat sulit diperbaiki agar konsumen membeli
versi baru.
Kebohongannya
bukan selalu berupa penipuan besar, tetapi janji berlebihan (overclaim)
yang secara kolektif merugikan konsumen.
Pelajaran: Tidak semua yang berlabel
“smart” benar-benar cerdas bagi pengguna.
Penutup: Teknologi Membutuhkan Etika, Bukan Sekadar
Inovasi
Kebohongan
terbesar di dunia teknologi jarang muncul dari satu orang saja. Biasanya ia
lahir dari kombinasi ambisi, tekanan pasar, budaya “move fast”, dan kurangnya
pengawasan etis. Teknologi pada dasarnya netral—yang membuatnya berbahaya atau
bermanfaat adalah manusia di baliknya.
Sebagai
pengguna, investor, maupun profesional IT, kita perlu bersikap kritis terhadap
klaim teknologi, menuntut transparansi, dan tidak mudah terpesona oleh jargon
inovasi. Karena masa depan teknologi tidak hanya ditentukan oleh apa yang bisa
kita ciptakan, tetapi juga oleh kejujuran dalam menciptakannya.
Comments
Post a Comment