European Super League: Proyek Ambisius yang Akhirnya Mati Pelan-Pelan

 

Setelah lima tahun penuh kontroversi sejak pertama kali diumumkan pada 2021, proyek European Super League (ESL) kini bisa dikatakan secara de facto tidak lagi berkiprah. Gelombang penolakan, mundurnya klub-klub besar, hingga konflik hukum berkepanjangan membuat liga tandingan ini kehilangan tenaga—hingga akhirnya ditinggalkan nyaris semua pendukung awalnya.

Awal Mula dan Kejatuhan Cepat (2021)

ESL diluncurkan oleh 12 klub elite Eropa dengan tujuan menciptakan kompetisi baru yang memberi kendali pendapatan lebih besar bagi klub besar. Namun rencana ini langsung menuai protes keras dari suporter, otoritas sepak bola, dan pemerintah di berbagai negara. Dalam 48–72 jam, enam klub Premier League menarik diri, disusul klub lain seperti AC Milan, Inter Milan, Atlético Madrid, hingga Juventus beberapa tahun kemudian.

Upaya Menghidupkan Kembali ESL Gagal Total

Meskipun sempat mencoba bangkit melalui rebranding menjadi Unify League pada 2024 oleh A22 Sports, kompetisi ini tidak mendapatkan respons positif dari klub-klub Eropa. Perubahan format Liga Champions ke model Swiss serta distribusi pendapatan baru membuat klub-klub merasa lebih nyaman tetap bernaung di bawah UEFA. [espn.com]

Selain itu, keputusan Mahkamah Uni Eropa pada 2023 yang menyatakan UEFA telah menyalahgunakan posisi dominan sempat memberi harapan bagi pendukung ESL. Namun mayoritas klub besar tetap menolak bergabung kembali, seperti Manchester United, Manchester City, Inter Milan, dan Bayern München yang menegaskan komitmen penuh pada UEFA.

Gugurnya Para Pendukung Utama: Barcelona dan Juventus

Barcelona menjadi salah satu klub yang paling lama bertahan mendukung ESL. Namun pada 7 Februari 2026, mereka secara resmi mengumumkan penarikan diri total dari proyek tersebut. Keputusan ini sekaligus memutus hubungan mereka dengan Real Madrid sebagai sesama pendukung terakhir. Barcelona memilih memperbaiki relasi dengan UEFA dan kembali menjalin kerja sama dengan asosiasi klub Eropa (EFC).

Sebelumnya, Juventus telah keluar pada 2024, membuat Real Madrid menjadi satu-satunya klub yang tetap ngotot mempertahankan ide liga tandingan ini.

Real Madrid: Pejuang Terakhir yang Kini Mereda

Sebagai penggagas utama proyek, Real Madrid terus terlibat konflik hukum dengan UEFA hingga 2025. Mereka menuduh UEFA melakukan praktik anti-kompetitif dan menuntut kompensasi kerugian. Namun pada 12 Februari 2026, Madrid dan UEFA mencapai kesepakatan damai, yang menandai berakhirnya sengketa hukum serta menutup bab proyek ESL bagi klub tersebut. Dengan langkah ini, secara praktis tidak ada lagi klub yang aktif mempertahankan ESL.

Apakah ESL Resmi Mati?

Secara hukum, European Super League memang belum diumumkan bubar. Namun secara praktis dan operasional, liga ini sudah tidak lagi berkiprah karena:

Hampir semua klub besar menarik diri

Termasuk Barcelona (2026), Juventus (2024), dan seluruh klub Inggris sejak 2021.

Tidak ada dukungan struktur kompetisi maupun finansial

Mayoritas klub Eropa menegaskan tetap setia pada UEFA.

Konflik hukum telah diselesaikan

Real Madrid dan UEFA sepakat mengakhiri perseteruan, menutup pintu lanjutan proyek.

Tidak ada rencana lanjutan dari A22 Sports yang mendapat dukungan klub

Perubahan format Liga Champions dinilai sudah cukup memuaskan klub-klub besar.

Kesimpulan

European Super League kini dapat dianggap sebagai proyek yang mati secara fungsional.
Walaupun tidak secara resmi dibubarkan, tidak ada lagi klub besar yang bersedia berkontribusi, tidak ada kompetisi yang berjalan, dan tidak ada momentum politik maupun hukum untuk menghidupkannya kembali.

Proyek ambisius yang dulu digadang-gadang sebagai revolusi sepak bola Eropa itu kini hanya tinggal catatan sejarah—sebuah eksperimen kontroversial yang tumbang oleh suara suporter, tekanan publik, dan ketidaksepakatan internal klub-klub top Eropa.

 

Comments